Seminggu yang lalu, saya masih ingat. Siang itu saya sholat berjamaah dengan beliau. Dra Djamilah Abdullah, rekan sesama guru. Beliau adalah Guru Bahasa Inggris, yang meninggal dunia hari Sabtu diusianya yang ke -60.
Ada banyak memori tentang momen simpel yang akan selalu saya kenang sampai kapan pun. Setiap saya melewati meja beliau (yang berdekatan dengan pintu ruang guru), kami selalu saling menyapa dengan hangat.
Bu Djamilah : Pulang mbak Tyka?
Saya : Belum Bu, mau makan dulu.
Lain hari lagi,
Bu Djamilah : Selamat pagi Non,…
Saya : Selamat pagi Bu….
Sering di saat mengajar, saya mendengar suara beliau melalui speaker, mengumumkan berita kehilangan barang siswa, pengumuman ini itu, dan yang membuat saya terharu adalah: waktu Anas dkk mau berlaga di Olimpiade (sains), beliau mengajak doa bersama.
Lain waktu, saya yang tengah duduk di bangku saya di ruang guru, sayup mendengar beliau sedang menasehati anak-anak yang datang kepada beliau. Ntah perihal peminjaman fasilitas sekolah, atau ada yang melapor kehilangan barang, atau apa aja.
Yang paling saya ingat adalah, setiap ada acara di luar sekolah, misal ada workshop guru di Fortuna, 2 tahun berturut-turut (2008-09), maka beliau yang paling semangat dan rajin menyediakan snack bagi para guru yang semakin malam- semangatnya semakin kendor untuk menyelesaikan Perangkat Mengajar. Masih banyak lagi kenangan tentang almarhumah yang meninggalkan 3 orang anak itu.
Malam minggu (17 Oktober), saya tiba dirumah setelah seharian berada di luar rumah. Betapa terkejutnya ketika melihat berita di twitter yang mengabarkan kalau beliau meninggal dunia, karena kecelakaan! Saya hubungi Bu Yohana, dan beliau memastikan berita duka itu.
Saya kaget, ingin menangis tapi masih terlalu shock. Sosok Bunda yang hari Kamis menyapa saya dengan hangat, suara beliau, masih terngiang. Keesokan harinya setelah mengantar suami ke Juanda dan sekalian menjemput Mamah, saya mampir ke rumah duka. Alhamdulillah, jenazah masih belum diberangkatkan ke TPU. Saya tiba sebelum jenazah di sholati.
Saya ga berani melihat jenazah beliau.
Lalu ketika sambutan dari Bapak Kepala Sekolah, pelan-pelan hati ini mulai bergetar, “Dan semoga almarhumah meninggalnya ini, mati syahid,” pelan-pelan Bapak Kepala Sekolah berucap. Saya pun tak kuasa menahan tangis, ya Allah…. Bundaku… Bunda Djamilah telah tiada….
Setelah jenazah di sholatkan, saya pun beranjak pulang. Ga bisa lama-lama di rumah duka karena kasihan Mama yang saya ajak, kepalanya cenut-cenut sejak semalam.
Sampai pagi ini, banyak hal yang mengingatkan saya kepada almarhumah. Istighfar… Saya terus istighfar… Ini adalah kali pertama saya ditinggal meninggal oleh orang yang sehari-hari sering saya temui.
Satu hal yang pasti, saya ingin bisa mewarisi semangat beliau untuk mengajar para anak didik.
Ya Allah. Ampunilah dosa-dosa beliau. Terimalah amal ibadahnya dan jadikan ilmu yang telah beliau transfer kepada anak didiknya menjadi amal jariyah yang bisa berguna untuknya sampai kapan pun. Lapangkan kuburnya ya Allah. Selamatkan dari siksa api neraka kelak. Amin amin ya robbal alamin.
Thx 4 yr comments :)